Minggu, 23 Desember 2012

Lanjutan . . .

Tiga tahun kemudian, aku dan Sete Gbernau kebetulan bertarung di sirkuit dan trek yang sama. Ia sepertinya berharap aku melakukan hal yang serupa seperti yang terjadi pada Biaggi. Ia juga tampaknya tahu apa yang akan terjadi di putaran terakhir saat aku mencoba mendahuluinya pada beberapa tikungan tajam sebelumnya. Namun, aku ternyata telah membuat satu kesalahan fatal, akibatnya Gibernau berhasil mendahuluiku lagi. Kemudian, aku putuskan untuk mengambil posisi di sebelah dalam saat mulai menuju tikungan yang menanjak, dengan demikian, aku akan bisa mendahuluinya persis saat kami meluncur ke bawah. Aku ingin lekas-lekas mendahuluinya sebelum melintasi trek menurun yang panjang itu. Aku memang berhasil melakukan ketika kamu memasuki tikungan panjang dan sudut tanjakan berubah.
"Aku berhasil," demikian teriakanku dalam hati. Namun, kegembiraan itu ternyata hanya semetara. Ada yang tidak kuduga sama sekali. Gibernau menahan remnya lalu segera menempel rapat disebelahku hingga kami berpacu naik ke arah bukit bersamaan. Motor hondanya terasa seperti sedikit membentur ujung roda depan yamaha yang kukendarai. Tiba-tiba saja aku melihatnya mulai bergerak melebar dan terlalu melebar. Ia ternyata tak mampu menyelesaikan tikungan itu.
"Oh, kau akan melebar kan...yeah, kau benar-benar melebar..ya...ya, kau tak bisa menghindarinya.. kau terlalu melebar... aku mempu melaluinya!" demikian sorakku dalam hati begitu aku mulai menekan gas dan segera melesat jauh mendahuluinya.
Pada trek seperti itu, kamu melaju sangat cepat dalam posisi miring. Kamu takkan bisa menyentuh rem, juga menegakkan badan. Sekali berada dalam situasi itu, kamu takkan bisa kemana-mana lagi. Kesalahan sekecil apapun, terutama saat berada dalam kecepatan yang tak tepat, membuat riwayatmu tamat.
Gibernau melaju terlalu kencang saat memasuki tikungan, sedangkan aku melaju dengan kecepatan ideal. Aku berhasil mendahuluinya, melaju terus hingga menyelesaikan putaran terakhir, menikung pelan ke kanan sama persis dengan apa yang pernah kulakukan tiga tahun sebelumnya.
Itulah kemenanganku pada kejuaraan Autralian Grand Prix 2004. Aku memang bersama Yamaha. Mengalahkan Honda. Dan aku berhasil meraih kembali predikat Juara MotoGP.

Sabtu, 22 Desember 2012

Hosting Pertamaku

CAPITOLO UNO


Kami membanting setir ke kiri sekaligus melesat miring masuk gigi tiga penuh dengan kecepatan 170km/jam. Dari motor Hondaku, aku cuma bisa melihat bagian atas knalpot motor Yamahanya. Ia masih didepanku, bahkan hingga tikungan diatas bukit itu yang kalau cakrawala mulai menghilang, kamu akan segera lenyap juuga di baliknya. Aku masih ketat menempel di belakangnya. Itulah saat paling menentukan bagi delapan pembalap yang kemudian tinggal kamu berdua : aku dan Max Biaggi.
Memang saat paling menentukan dalam kejuaraan tahun 2001 itu. Putaran terakhir, sirkuit terakhir yang berat. Aksi terakhir untuk menang. Kesempatan terakkhir.... untukku.
Tikungan yang memanjang beraspal tersebut terlihat seperti olesan mentega pada permukaan bukit hijau yang terlalu curam itu. Tikungan yang tampak bergantung dan selaras dengan setiap permukaan bukit itu mirip huruf  'S' ke kiri, lalu ke kanan, dan berakhir tepat di puncaknya. Sebelum kamu bisa mencapainya, kamu harus bergerak naik dulu, setelah itu menuruninya.
Saat kamu tiba pada bagian sudutnya, kamu pasti takkan bisa melihat apa-apa. Kamu hanya bisa membayangkannya. Kamu juga tak tahu kapan harus mengerem, yang bisa kamu lakukan hanyalah menyadari kalau di sudut itulah kamu harus bisa mengambil posisi yang tepat, atau semua akan terlambat karena kamu memang tak bisa melakukan apa-apa.
Aku berpikir untuk mengambil posisi di sebelah luar, dengan demikian, aku bisa berada di sebelah kanan Biaggi saat menuruni trek pendek , lalu berada di sebelah dalam pada tikungan berikutnya. Satu-satunya cara untuk mengatasi tikungan tersebut adalah langsung beralih ke gigi satu setelah dari gigi empat.
Jika kamu bisa lebih dulu keluar dari sana, semua pasti berakhir. Artinya, kamu lah yang menang. Rasa-rasanya, saat itu juga sikuku menggores yamaha yang dikendarainya. Pertama-tama kurasakan knalpotnya, lalu ban belakangnya. Aku memang harus melakukannya dan telah mengambil resiko yang sangat besar. Itulah satu-satunya cara untuk mendahuluinya, tepat saat mengerem. Itulah yang kulakukan. Dan saat aku mulai berada si sampinyalah dia baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ia memang terlambat mengantisipasinya saat kami meluncur turun berdampingan. Akulah yang lebih dulu sampai pada tikungan tajam ke kanan itu, lalu berhasil memimpin di tikungan panjang ke kiri, dan akhirnya benar-benar berhasil lebih dulu menembus garis finish.
Itulah awal kisah kemenanganku pada kejuaraan Australian Grand Prix 2001 yang menobatkanku menjadi juara dunia baru motor 500cc.